Endah Laras: Pentas Nepotisme


foto

Endah Laras. TEMPO/Andry Prasetyo

Senin, 21 November 2011 | 20:06 WIB

TEMPO.CO, Solo – Meski pernah bekerja sama dalam Opera Jawa pada 2006, Endah Murwani Laras, 35 tahun, tak langsung mengangguk ketika Garin Nugroho kembali mengajaknya untuk bermain dalam film sejarah, Mgr Sugiyapranata. Ia merasa tak mampu menghafalkan naskah film. Namun lantaran cuma berperan sebagai ibu kos tempat para wartawan peliput agresi militer Belanda menumpang, dan tak banyak dialog, Endah akhirnya menerima. Dua pekan lalu, proses syuting dimulai. “Justru lebih banyak menyanyi,” kata Endah saat ditemui di kediamannya di New Garden, Baki, Sukoharjo, Rabu lalu.

Endah terlahir dalam keluarga seniman. Ayahnya, Sri Joko Raharjo, adalah dalang yang cukup terkenal. Sejak kecil, dasar-dasar olah vokal dan tari sudah ia kuasai. Endah sering menjuarai pekan olahraga dan seni dalam cabang seni tari saat duduk di sekolah dasar.

Bersama saudara-saudaranya, ia sempat bermukim di Jakarta mengikuti orang tuanya. Di Ibu Kota, mereka stres karena bakatnya dalam berkesenian tradisional tak tersalurkan. Akhirnya, Endah memilih menyalurkan bakatnya di paduan suara, seriosa, dan lagu balada.

Saat Endah lulus sekolah menengah atas pada 1995, keluarganya memutuskan kembali ke Solo. Karena membawa banyak barang, Endah menyewa truk dengan ongkos Rp 300 ribu. Saat beristirahat di tengah perjalanan, dia menyempatkan diri untuk mandi. Ketika Endah bersenandung Yen Ing Tawang Ana Lintang karya Andjar Any di kamar mandi itulah, si sopir truk yang hendak mengkhitankan anaknya menguping dan tertarik.

Sopir itu lantas mengancam akan menurunkan semua barang milik Endah bila perempuan itu tak mau menyanyi di hajatannya. Endah pun tunduk, seraya berharap si sopir akan lupa karena pesta baru akan digelar dua pekan kemudian. Dugaannya meleset. Pada suatu malam, orang suruhan si sopir menjemput Endah dengan sepeda motor Honda GL 100. Telanjur berjanji, Endah pun berangkat dengan hanya mengenakan kaus dan celana jins. “Saya sangat kaget,” katanya.

Giliran pemimpin Orkes Keroncong Purnama Jaya yang mengiringinya yang terpikat suara Endah. Bersama orkes itu, ia kemudian berkeliling ke banyak daerah untuk memamerkan suara emasnya. Nama Endah Laras cepat dikenal oleh masyarakat, termasuk Andjar Any, pencipta lagu keroncong dan langgam yang menjadi favoritnya. Pada 1996, dia pun membuat album bersama Andjar Any dengan judul Gemes dan Jangkrik Genggong setahun berikutnya.

Total 10 album telah ia buat. Semuanya merupakan album lagu keroncong dan campursari. Bersama Wied Sendjayani, pengasuh kelompok Maniratari, saat ini Endah sedang menyiapkan album lagu balada bertema tentang alam dan kritik sosial. “Saya membuat aransemen, sedangkan syairnya dibuat oleh Bu Wied,” katanya.

Selain membuat album baru, ada satu impian yang hendak dicapai Endah: menggelar pentas nepotisme. Maksudnya? “Pertunjukan kolaborasi bersama adik-adik,” ujarnya, lalu diiringi derai tawa.

Selain Sruti, adiknya yang lain, Supanjang Murti Raharjo, adalah pengajar karawitan bagi beberapa orang asing. Begitu juga Retno Musti Sari, yang dikenal sebagai pengrawit andal. “Jago menabuh kendang, rebab, dan gender,” kata Endah.

Meski banyak yang mengakui kepiawaian Endah, kekaguman dia kepada sosok Waldjinah sangat terlihat. “Bu Waldjinah sering membimbing saya dengan sangat lembut,” kata dia. Pelantun Walang Kekek itu tidak pernah menyalahkan teknik yang dilakukan dalam menyanyi. Ia juga tak segan untuk membetulkan selendang atau tusuk konde Endah yang melenceng.

Ahmad Rafiq

Endah Laras: Pentas Nepotisme

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s